Kisah Sukses UKM Jualan Online, Omzet Rp 200 Juta Per Bulan

Kisah Sukses UKM Jualan Online, Omzet Rp 200 Juta Per Bulan
Pria berusia 30-an tahun ini berbagi kisah hingga dirinya menerjuni jual beli secara online. Berawal dari memenuhi kebutuhan biaya untuk pengobatan anaknya, yang baru lahir dan sedang sakit sehingga harus sering keluar-masuk rumah sakit.
Selain waktu kerjanya banyak tersita, perputaran uang di rumah juga sangat terganggu karena pengeluaran biaya untuk pengobatan yang cukup besar.
 Dia cerita, pertama kali mengenal transaksi onlie awal 2010. Ketika itu, ia mencoba membeli sepeda secara online. Namun, bukannya barang diperoleh secara utuh, uang yang telah ditransfernya pun raib entah kemana. Untungnya, ia memiliki teman di sebuah bank, sehingga transaksi tersebut dibatalkan dan ia mendapatkan kembali uangnya.
“Saya jadi berpikir, apakah benar jual-beli online ini selalu diikuti praktek penipuannya. Ini yang membuat saya ingin memasuki bisnis online,” ujarnya.
Setelah menjajagi beberapa market place online yang ada, akhirnya pilihan jatuh ke bukalapak.com. Nurdyansyah yang memiliki account @dyansyah ini mengaku sangat enjoy bertransaksi di bukalapak.com karena dijamin keamanannya.
Mekanismenya, pembeli melakukan pembayaran terlebih dahulu ke Bukalapak.com dan baru dibayarkan kepada pelapak jika item yang dijual sudah diterima oleh pembeli. Sehingga pembeli terhindar dari transaksi jual-beli palsu.












Kuliah Sambil Bisnis Online, Cerita Sukses Dina dan Doni
Siapa yang tak mau menjadi mahasiswa yang mandiri? Bayar uang kuliah, biaya sewa kost, keperluan pribadi, tagihan listrik, sampai membeli sebuah mobil pun jadi. Usaha memang tak akan membohongi hasil. Omset puluhan juta sudah menjadi hal yang biasa untuk mereka para mahasiswa yang memiliki jiwa wirausaha tinggi.

Dina Nandika adalah salah satu mahasiswa Unpad yang berhasil dalam menjalankan bisnis online-nya. Ia sudah memulai bisnis tersebut sejak berada di tingkat pertama kuliahnya di Fakultas Ilmu Komunikasi. Dengan tekad bulat dan modal awal yang tak seberapa untuk menjual tas-tas wanita, kini ia mampu memenuhi segala kebutuhannya. Termasuk biaya kuliah, biaya sehari-hari, sampai biaya untuk membeli sebuah kendaraan roda empat.

“Awalnya aku cuma bermodal 200 ribu, sekarang omset aku sehari bisa mencapai 14 juta. Kalau dihitung per bulan, bulan ini udah sampai di angka 120 juta” tuturnya dengan ekspresi malu-malu.

Pemanfaatan teknologi dengan berjualan lewat media online ini diakui Dina memang sangat menguntungkan. Dibandingkan dengan membuka gerai, strategi berjualan seperti ini dianggap jauh lebih hemat. Sebuah gadget dan koneksi internet sudah cukup untuk menjajakan barang yang ia jual.

Tak hanya Dina, mahasiswa lainnya yang mampu merasakan keberhasilan berkat berjualan lewat media online adalah Doni Mulyana. Doni merupakan mahasiswa Fakultas Peternakan Unpad. Sejak semester keempat, ia sudah mampu membayar biaya kuliahnya sendiri. Ia menjual berbagai merchandise seperti kaos, jaket, dan sweater dengan desain dan brand yang ditargetkan untuk mahasiwa Unpad.

Omset yang diraihnya pun tak tanggung-tangung. Menurutnya dalam sebuah acara ia mampu mendapat omset hingga 20 juta per bulan sedangkan jika berdasarkan pesanan biasa, setiap bulannya ia mampu mengantongi setidaknya 3 juta. Doni mengaku sudah mampu membayar segala kebutuhannya selama kuliah sampai ia berhasil lulus pada bulan Januari lalu. “Alhamdulillah dari uang kuliah semester 4 sampe lulus, keperluan pribadi, biaya kost, dan lain-lain ditanggung sendiri,” katanya.

Dukungan Teman
Kesuksesan bisnis yang diraih tak lain dan tak bukan berasal dari dukungan teman-teman di bangku kuliah. Mulai dari sekedar ucapan semangat, bantuan promosi, hingga turut menjadi pelanggan setia, semuanya diterima oleh para pelaku bisnis online ini. “Temen-temen nyuruh untuk bikin Instagram, mereka juga sering kasih saran untuk bikin tas model baru. Mereka juga selalu ngingetin kalau ada tren terbaru supaya aku selalu ngikutin trend” ujar Dina.

Salah satu pelanggan yang juga merupakan kerabat Dina yaitu Wia Yunia, menuturkan bahwa alasannya selalu memberi barang yang dijual oleh temannya tersebut adalah karena harganya yang terjangkau. “Barangnya murah-murah disbanding online shop lain, pilihannya juga banyak, dan kualitas produknya juga bagus. Sesuai deh sama harga. Terus karena produk temen, jadi suka dapet potongan harga dan bisa minta custom” tutur Wia. Sama halnya dengan dukungan yang diterima Doni dari teman-temannya semasa kuliah. “Mereka ngedukung selalu ikut promosiin saya” ujar Doni.

Terus Berkembang
Dengan pencapaian yang telah diraih, bukan berarti langsung berpuas diri. Doni menargetkan untuk segera membuat brand di kampus UIN dan UPI. Ia sedang dalam prosesn untuk mencapai target barunya tersebut. Ia juga ingin memiliki sebuah peternakan. Berkecimpung di dunia bisnis tak lantas membuatnya lupa akan ilmu yang telah diraihnya di bangku kuliah. Hingga kini ia sudah menggunakan uang tabugannnya untuk membuka konveksi di rumahnya sendiri.

Lain Doni lain juga Dina. Dina menargetkan bisnisnya tak hanya berhenti sampai menjual tas saja. Ia berencana menambahkan baju sebagai barang yang akan dijualnya. “Barang-barang khusus cewek” katanya. Bisnis ini juga akan terus ia jalani sampai nanti ia lulus dari bangku kuliah.

Hilangkan gengsi
“Kalau mau bisnis, yang harus dihilangkan itu adalah gengsi. Jangan takut gagal ataupun rugi, hal itu wajar dalam dunia bisnis. Hal seperti itu jadi pelajaran aja untuk ke depannya. Bisnis mah kayak bola salju, nanti juga berjalan membesar mau untung sedikit juga jalanin aja fokus. Terakhir jangan lupa sedekah, banyak keajaiban dari infaq dan sedekah” kiranya begitulah tutur Doni saat ditanya mengenai pesan bagi mahasiswa yang sedang merintis usaha.

Menjalani bisnis sambil kuliah memang gampang-gampang susah. Disamping mengerjakan tugas-tugas akademik bisnis tetap harus jalan. Saat bisnis terasa sedang sepi, kita dituntut untuk tidak mudah menyerah. Rintangan menuju kesuksesan memang tak sedikit. Namun segalanya harus dihadapi sampai nantinya berbuah manis.
(ded/ded)










Renaldi, Potret Sukses Pebisnis Online Shop dari Kota Pangkalpinang

Renaldi dengan rak tempat penyimpanan stok produk-produk kosmetik dan aneka aksesoris yang dipasarkannya melalui online shop.
Online shop kini menjadi ladang bisnis yang tumbuh subur di Indonesia. Tingginya tingkat literasi internet, penggunaan smartphone yang marak, serta luasnya jaringan pick up point jasa kiriman paket ekspres membuat bisnis online shop makin menjamur, digeluti oleh banyak orang.
Tidak hanya oleh mereka yang tinggal di kota besar, tapi juga oleh mereka yang tinggal kota kecil, bahkan di desa-desa.
Selain melalui website dan marketplace, para pelapak di dunia maya juga banyak memanfaatkan media sosial dan aplikasi di smartphone untuk memasarkan produk-produknya.
Media sosial seperti Facebook dan Instagram belakangan paling populer digunakan para pelaku bisnis online shop untuk mempromosikan produk dan menggaet pelanggan.
Seperti yang dilakukan pebisnis online shop, pasangan suami-istri Renaldi dan Liana Wati dari Kota Pangkalpinang. Pasangan ini merintis bisnis online shop sejak tahun 2008. Kini, bisnis mereka kini berkembang pesat dengan omset usaha mencapai jutaan rupiah per bulan.
Keduanya merupakan salah satu pebisnis online shop sukses di Kota Pangkalpinang dan menjadi member JNE Loyalty Card (JLC), kartu membership yang disediakan JNE Express untuk pelanggannya yang kerap melakukan pengiriman barang melalui JNE.

Renaldi dan Liana Wati memasarkan produknya berupa aneka kebutuhan gaya hidup seperti aneka sepatu, baju, tas, aksesoris, sampai perhiasan dan oleh-oleh lewat media sosial Facebook dan Instagram yang di-back up dengan aplikasi Whatsapp di smartphone.

Di Facebook, Renaldi dan Liana Wati memasarkan produk mereka dengan menggunakan nama akun sang istri, yakni Liana Wati (Be Bles Shop), lengkap dengan foto, keterangan produk dan harganya.

Saat Tribunnews mencoba menyambangi akun ini Jumat (20/10/2017) siang, di wall akun tersebut terpajang aneka produk seperti tas, sampai arloji dan perhiasan. Satu diantaranya, tawaran sebuah tas imut warna pink yang bisa diselempangkan dan bisa diubah menjadi tas ransel. Tas lucu ini ditawarkan seharga Rp 200 ribu.

Ada juga arloji merk Bonia warna emas yang ditawarkan seharga Rp 2.150.000 per unitnya serta arloji Casio dengan tampilan sporty hitam yang ditawarkan seharga Rp 275.000 per buah.
















Berkat Online Shop, Pengangguran Ini Jadi Pengusaha Hijab Sukses

 'From Zero to Hero', mungkin kalimat itu bisa menggambarkan Suci Utami. Seorang blogger yang awalnya pengangguran, kini bisa mendapatkan penghasilan hingga puluhan juta rupiah dengan berbisnis online. Seperti apa kisahnya?

Setelah lulus dari kuliah pasca sarjananya di London School of Public Relation, wanita kelahiran 31 Januari 1987 itu tidak memilih untuk bekerja sebagai Public Relation atau Marketing Communication profesional sesuai jurusan yang diambilnya. Sebelum memulai bisnis online, ia justru memutuskan untuk menghabiskan waktunya sebagai blogger khusus hijab dengan judul 'lastminutegirl.blogspot'.

"Awalnya dulu sebagai blogger, terus saya pakai jilbab. Semejak pakai hijab, melihat banyak blogger hijab yang bagus-bagus jadi terisnpirasi untuk bikin blog khusus hijab. Posting-posting foto tiap hari. Dari situ, Alhamdulillah blognya diterima dengan baik sama pembaca, banyak yang komen, banyak yang follow, hit dari blognya juga lumayan cepat," ujar Suci Utami saat diwawancara Wolipop beberapa waktu lalu.
Setelah blognya mulai mendapatkan banyak pembaca setia, wanita yang berusia 25 tahun itu, melihat adanya peluang usaha. Banyak pembaca blog Suci yang bertanya mengenai hijab yang dikenakan Suci. Bisa dibilang, saat itu hijab berbahan kaus belum banyak ditemui.

"Sebenarnya nggak ngambil itu sebagai opportunity juga, tapi pada saat itu hijab bahan kaus belum terlalu in. Aku lihat peluangnya oke banget karena aku beberapa kali pakai di blog dan banyak yang nanyain aku beli dimana," tambah wanita yang memulai bisnis onlinenya pada awal 2011.

Menurut Suci memulai bisnis online tidaklah mudah. Ia perlu berkonsentrasi selama kurang lebih empat bulan untuk memulai bisnis onlinenya yang bernama Such by Suci Utami. Namun, wanita yang menikah pada 2011 itu, baru bisa membuat bisnis onlinenya benar-benar dikenal orang sejak sang suami, Budy Kurnia Djuanda campur tangan pada 2012. Bahkan Budy memutuskan untuk menseriusi bisnis istrinya dan menjadi 'penggerak'.

"Ide bisnis online ini datang dari kita berdua. Sampe sekarang semua decision hingga strategi pemasaran dia yang bikin karena S1 dan S2-nya bisnis. Jadi menurut aku, sudah sekolah susah-susah bisnis, ngapain jadi somebody's employee. Mendingan kita bisnis saja untuk menerapkan ilmu yang dia dapat, aku dapat. Semua ini dibuat pake ilmu. Alhamdulillah, lancar-lancar aja dengan kehadirannya suami," tambah Suci yang saat diwawancara tengah hamil.

Jika sebelumnya Suci mendapatkan barang dan bahan dari Tanah Abang, kini wanita yang baru saja melahirkan anak pertamanya itu, telah memiliki konveksi sendiri. Saat memulai bisnis online, Suci hanya mendapatkan omzet sekitar Rp 20 jutaan, sekarang ia berhasil mendapatkan omzet hingga Rp 70 jutaan dengan pelanggan yang berasal dari berbagai penjuru dunia.

"Sekarang sudah punya konveksi sendiri terus untuk barangnya sudah disuplai dari penyuplai bahan, jadi nggak ke Tanah Abang lagi. Waktu awal banget, omzetnya masih Rp 20 jutaan tiap bulan. Alhamdulillah sekarang sudah mencapai Rp 60-70 jutaan. Kita buka reseller dan pembelinya bukan dari Indonesia aja, produknya sudah kemana-mana, paling deket Malaysia, Singapore, Brunei. Untuk yang jauhnya, Prancis, Belgian, pernah juga ke Australia," ungkap Suci lagi.

Menurut Suci, usahanya kini telah sampai pada pencapaian terbesarnya. Walau begitu, Suci masih ingin terus melebarkan bisnisnya dengan mendirikan butik di Indonesia untuk brand pakaian muslimnya tersebut. Berkat bisnis onlinenya itu, Suci telah mendapat kesempatan untuk meluncurkan buku novel bersama tiga blogger hijab dan juga menjadi pembicara mengenai hijab.

"Dari blogger hingga punya brand sudah pencapain besar buat aku, brand aku bisa dikenal terus yang paling latest sekarang, aku bisa bikin novel bareng blogger lain, bikin dvd hijab tutorial sama salah satu blogger juga. Untuk dvd, kita nggak nyangka, kita bikin 1000 keping, dalam waktu dua minggu 750 sudah sold out. Jadi buat kita itu pencapainnya yang lumayan besar. Belum lagi kesempatan diundang kelas hijab, jadi pembicara tentang hijab," tutup Suci.







Punya Usaha Beromzet 1 Miliar, Mahasiswa UNNES Bagikan Seribu Gelas Susu Saat Wisuda  

Memiliki usaha yang sukses membuat Mohamad Faisal Hidayat bersyukur. Berkat usahanya, mahasiswa D3 Teknik Elektro Universitas Negeri Semarang (UNNES) ini bisa membiayai kuliah hingga selesai. Faisal juga membeli empat mobil keluarga dambaannya. Untuk mengungkapkan rasa syukur itu Faisal membagikan seribu gelas susu kepada wisudawan lain dan keluarganya saat diwisuda pada Selasa (7/3).
Faisal memulai usaha penjualan susu pada awal 2013. Dengan uang Rp1,3 juta ia nekat menyewa kios di Jalan Cempaka, Sekaran, tidak jauh dari kampusnya. Tak disangka, usaha penjualan susu dengan merek Its Milk itu sukses. Pada bulan pertama saja ia bisa mengantongi keuntungan Rp5 juta. Keuntungan itulah yang digunakannya untuk melunasi sewa kios.
“Saat nego saya bilang ke pemilik kios, kalau bulan depan tidak bisa bayar saya siap diusir. Tapi saya bersyukur, ternyata saya bisa dapat lima juta. Uang itu yang saya pakai buat lunasi sewa kios,” katanya.
Sukses dengan satu outlet tak membuat Faisal berpuas diri. Ia berusaha membangun outlet Its Milk lain. Hasilnya, dalam 3,5 tahun saja ia telah memiliki 15 outlet di 13 kabupaten/kota yang tersebar di lima provinsi. Selain di Jawa Tengah, ia membuka outlet di Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, dan Lombok (NTB). Jika dirata-rata ia bisa membuka satu outlet baru per dua setengah bulan.
Dengan 15 outlet yang dimilikinya, omzet bisnisnya semakin besar. Dalam sebulan, omzetnya bisa lebih dari Rp1 miliar. Satu outlet dengan outlet lain mengumbang omzet yang beragam. Outlet yang sepi hanya beromzet Rp30 juta, tapi outletnya yang ramai omzetnya bisa mencapai Rp400 juta. Faisal menolak mengatakan jumlah keuntungan bersihnya. Tapi ia memberi ancer-ancer: “Kurang lebih sepertiganya,” katanya.
Namun, tidak semua keuntungan itu masuk ke rekening pribadinya. Sejak awal ia berkomitmen untuk mengembalikan keuntungan yang diraih untuk diinvestasikan kembali. Karena itulah cabang usahanya bertambah dalam waktu singkat.
Keluarga Pernah Bangkrut
Dengan usaha itu, Faisal tak hanya sukses membiayai kuliahnya. Ia juga bisa menyekolahkan adik terakhirnya. Dan yang membuatnya bangga, ia bisa membeli mobil keluarga seperti yang diinginkannya sejak lama. Bukan hanya satu, tapi empat. Tiga mobil digunakan sebagai operasional satu mobil digunakan pribadi olehnya.
Keinginan Faisal membeli mobil berangkat dari pengalaman yang tak mengenakkan. “Keluarga saya bukan keluarga kaya, keluarga biasa saja. Kalau bepergian saat lebaran kami harus numpang mobil om atau pakdhe. Mama dan adik-adik numpang om, saya dan bapak numpang pakdhe. Terpisah. Saya sedih. Sejak saat itu saya bertaked pengin bisa beli mobil keluarga sendiri,” kata anak pertama dari tiga bersaudara ini.
Faisal bukan berasa dari keluarga berada. Orang tuanya pernah usaha kecil-kecilan, dari berdagang tamiya, buka rental playstation, jual beras, ikan, bahkan pernah jualan tampah. Bapaknya juga pernah jadi pemborong tempat pelelangan ikan. Tapi usaha itu belum membuahkan hasil karena ditipu.
Menurut Faisal, kondisi ekonomi keluarganya kurang sehat sejak terjadi krisi moneter. Akibatnya, keluarganya harus berpindah-pindah. Tidak kuat tinggal di Bekasi, mereka sempat pindah ke Klaten sebelum akhirnya kembali pindah ke Brebes.
Kondisi ekonomi itulah yang sempat membuat Faisal sempat pesimis bisa kuliah. Tapi ketika ia diterima di Program D3 Teknik Elektro UNNES, ia memberanikan diri untuk merantau ke Semarang.
“Saat itu bisa dibilang modalnya zero. Mama gak kasih uang saat itu. Mama pesan supaya saya berusaha sendiri supaya kuliah dan menghidupi diri di Semarang,” kenangnya.
Dalam situasi sulit itu Faisal merintis usaha. Dengan gerobak ia membuka usaha sate aci. Dengan gerobak pula ia pernah jualan olos dan coklat. Semua usaha itu dilakukan di sekitar kampus. Meskipun tidak rugi, usaha-usaha itu hanya memberinya sedikit keuntungan. Hanya cukup untuk bertahan hidup. Karena itulah ia putar otak lebih keras supaya bisa temukan usaha yang lebih menjanjikan.
Pada semester ketiga, ia memperoleh bantuan usaha melalui Program Mahasiswa Wirausaha (PMW). Modal sebesar Rp5 juta itu ia gunakan untuk riset pasar dan tersisa hanya Rp1,3 juta. Dengan uang sisa itulah ia memulai usaha Its Milk.
Saat usahanya mulai naik, ia merekrut dua teman kuliah untuk mengelola usahanya. Karena tak bisa memberi gaji, Faisal menjanjikan saham kepada keduanya. Kebetulan, salah satu temannya adalah pacar Faisal sendiri.
Kuliah dan Organisasi Tetap Jalan
Sukses berbisnis tak membuat Faisal abai pada kuliahnya. Ia masih bisa mendapatkan indeks prestasi di atas tiga. Kegiatan organisasi pun tak ia tinggalkan. Saat kuliah ia aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa. Bahkan pada 2013 lalu ia terpilih menjadi salah satu menteri di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) universitas. Kegiatan ekstrakuliernya di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Semarang juga tak ia tinggalkan.
“Harus pintar-pintar bagi waktu memang. Kadang kuliah saya tinggalkan, kadang organisasi yang saya tinggal, kadang Its Milk saya tinggal juga,” katanya.
Bahkan, setelah diwisuda dari UNNES, ia berencana melanjutkan pendidikan. “Mungkin saya akan ambil S1 supaya jadi sarjana teknik. Tapi mungkin juga sampai S2,” kata Faisal.
Ia mengaku bersyukur dengan berbagai pencapaiannya. Ia berharap ceritanya dapat menginspirasi orang lain. Oleh karena itu, ia ikhlas berbagi susu, jenis minuman yang membuatnya bisa seperti sekarang. Dengan membagikan seribu gelas susu ia ingin menginspirasi seribu orang agar senantiasa semangat meraih cita-citanya.

Komentar